Buatan Ibu Takjil Favorit ku ^_^

16 Jul 2013

Bismillaah

Takjil, begitulah masyarakat Indonesia menyebut makanan pembuka puasa. Kata yang terdiri dari 5 huruf tersebut merupakan kata serapan dari Bahasa Arab yaitu Tajil yang berarti menyegerakan. Entah sejak kapan istilah ini digunakan yang pasti sejak saya sekolah dasar ibu selalu meminta bantuan untuk membuat atau sekedar menghidangkan takjil buat buka sore ketika adzan maghrib. Biasanya takjil yang dihidangkan ibu beraneka macam dan menggugah selera sehingga membuat saya begitu semangat menjalankan puasa hingga adzan maghrib tiba. Maklumlah waktu itu belum terpikirkan bahwa pahala orang yang berpuasa sangat besar sekali bahkan Alloh SWT akan menjanjikan pintu syurga ar-Royan bagi orang yang ikhlas menjalankannya, jadi selain akan diberi hadiah jika tamat menjalankan puasa selama satu bulan penuh adalah salah satu penyemangat menjalankannya adalah menanti takjil yang dibuat ibu. Bandung adalah tempat tinggal saya, dan merupakan kota kuliner maka wajar saja ibu selalu menhidangkan menu takjil yang berbeda-beda setiap harinya, ada kolakcandil, dawet, papais, rangesing, setup peuyeum, Goyobod, colenak dan masih banyak lagi menu lainnya.

Lain hal dengan sekarang, menjadi pelajar pengembara yang jauh dari orang tua adalah hal yang sangat mengharukan apalagi moment di bulan Ramadhan seperti ini tidak ada lagi takjil yang biasa dihidangkan oleh ibu. Mungkin bisa saja membuat atau membeli tapi untuk rasa, terasa beda di lidah apalagi tempat saya menuntut ilmu sekarang adalah di luar kota tempat tinggal jadi sedikit sulit untuk mencari menu takjil yang biasa dibuat oleh ibu.

fb9a771ac0ec11df7a99b4f8ccef3eba_cendolSedikit saya ceritakan pengalaman saya 3 hari yang lalu berbuka di kontrakan bersama 2 teman yang lainnya. Di pertengahan bulan seperti ini bagi seorang mahasiswa, masih tersisa uang untuk jajan adalah hal yang sangat luar biasa apalagi untuk ukuran saya yang pas-pasan. Hari itu kami membeli cendol di warung depan kontrakan, ya lumayan lah tidak terlalu mahal untuk ukuran pelajar seperti kita. Ketika adzan maghrib berkumandang, kita segera membuka cendol, berdoa dan menyantapnya. Belum saja cendol itu habis di mulut, kita saling berpandang-pandangan dan kata salah satu teman lho kok cendolnya aneh ya rasanya, kayak agak bau-bau gimana gitu tapi kita tidak mementingkan rasanya, yang penting kita bisa makan takjil sore itu. Akhirnya kita habiskan saja cendol itu, tak begitu menghiraukan bagaimana efek nantinya. Kata saya gak apa-apa insyaAlloh barokah apalagi sedang berpuasa. Hari itu membuat saya semakin sedih mengingat keluarga di rumah, mengingat ibu yang biasa minta tolong untuk menghidangkan takjil walaupun, ibu agak sedikit marah karena saya biasa meminta lebih papais yang ibu buat. Ya, hampir setiap hari ibu membuat papais kesukaan keluarga terutama saya.

Orang yang bukan dari sunda mungkin belum tau apa itu papais, papais adalah salah satu penganan yang terbuat dari tepung beras yang di dalamnya dikasih pisang kemudian dibungkus oleh daun pisang dan dimasak dengan cara dikukus. Takjil yang sederhana dan tidak begitu mewah tapi sangat luar biasa istimewa karena dibuat oleh tangan seorang ibu, dengan tangan kasih sayangnya. Ya itulah takjil favorit saya.

Alhamdulillaah, semoga bermanfaat.


TAGS ngaBLOGburit


-

Author

Follow Me